Bombayah! Eichiro Oda Ungkap Budaya Pelacuran Zaman Jepang Kuno

Oda sensei memang sangat bombayah! Meski tensi cerita sedikit menurun, setidaknya setelah cerita 925, ternyata ada saja informasi menarik untuk di bahas dari cerita ke 927. Ya, kali ini beliau mengungkap budaya pelacuran yang terjadi di zaman jepang kuno.

Sepanjang cerita berjalan, One Piece memang telah banyak mengungkap beberapa sejarah kelam umat manusia, seperti misalnya perbudakan, penjualan anak-anak, pengisolasian serta perperangan yang mengorbankan banyak masyarakat sipil.

Nah pada chapter terbaru ini, Oda tampaknya kembali melakukan hal tersebut, yaitu lewat seorang anak perempuan yang memesan Soba di kedainya Sanji. Seperti apa ceritanya? mari kita bahas satu persatu.

Munculnya Seorang Anak Bernama Toko

Pada chapter sebelumnya, kalian tentu telah mengetahui status Sanji sebagai seorang pedagang Soba di negeri Wano. Nah pada chapter 927, usaha Sanji tersebut tampaknya benar-benar laris, terutama di kalangan perempuan karena cita rasanya yang tidak terlalu pedas serta tanpa alkohol.

Sayangnya di tengah euforia tersebut, muncullah tiga orang samurai dari keluarga Kiyoshiro yang datang untuk meminta jatah keamanan terhadap Sanji. Aksi mereka yang mengacaukan antrian panjang di kedai Sanji pun membuat seorang anak kecil menangis karena sobanya telah ditumpahkan.

Ya, dia adalah Toko, anak perempuan yang rela mengantri berjam-jam demi menyicipi soba buatan Sanji yang tengah populer di kota bunga. Anehnya, walau menangis, Toko justru memperlihatkan wajah tersenyum bahagia.

Dia Seorang Kamuro

Hingga Sanji dan Franky berhasil menghajar dua dari tiga samurai tersebut (satu orang kabur), Toko ternyata masih bertahan di lokasi tersebut, padahal warga lainnya terlihat hilang entah kemana. Dia akhirnya mendapatkan Soba pengganti dari Sanji yang memang mengerti bagaimana cara menghargai pelanggan.

Terungkap, dari perbincangan singkat mereka, Toko yang pintar melucu ini pun diketahui ternyata seorang Kamuro yang menyempatkan diri untuk menyoba Soba buatan Sanji, tidak peduli apakah ia akan datang terlambat untuk pergi bekerja. Dia benar-benar akrab dengan Sanji dan kawan-kawan.

Baca Juga  Karena Kecerobohannya, Ternyata Luffy Sudah 6 Kali Tertangkap Musuh !
Apa Itu Kamuro?

Kamuro adalah tingkatan terendah dari Oiran (dibahas selanjutnya), yang memiliki tugas untuk melayani dan mendampingi Dayu (Oiran tingkat atas). Berdasarkan informasi yang tertulis setelah halaman terakhir One Piece 927 pada laman jaiminisbox.com, mereka adalah anak-anak perempuan berusia 5 hingga 10 tahun.

Nah sebagai timbal baliknya, Oiran yang tingkat atas tersebut akan mengajari Kamuro bagaimana cara menjadi seorang Oiran. Disebutkan, para kamuro tersebut akan benar-benar tumbuh menjadi Oiran ketika mereka telah cukup umur.

Oiran yang Mempesona

Nah setelah membahas apa itu Kamuro sekarang kita masuk pada penjelasan tentang Oiran. Berdasarkan referensi pada popular-world.com (24-10-17) Oiran disebut sebagai wanita penghibur kelas atas zaman Edo yang memiliki kemampuan kompleks, mulai dari keterampilan tradisional seperti bermain musik, menari, upacara teh dsb, penguasaan literatur yang berguna untuk membantunya menyesuaikan pembicaraan dengan pelanggan, hingga kemampuan mereka dalam berhubungan seksual. Semua hal tersebut tentunya didukung pula oleh paras menawan serta fisik yang menggoda.

Mungkin kalian sedikit bertanya-tanya apa bedanya dengan seorang Geisha, seperti yang Nico Robin tengah lakoni saat ini. Baik, perbedaan utamanya itu adalah Geisha umumnya hanya menghibur lewat musik dan tari. Kecuali jika bersedia, mereka mungkin dapat mempertimbangkan untuk berhubungan badan dengan pelanggan tertentu yang mereka kehendaki.

Kembali pada Oiran, berdasarkan referensi pada jaiminisbox.com, tingkatan untuk menjadi seorang penghibur tingkat atas tersebut adalah sebagai berikut:

Baca Juga  Ga Nyangka, Beberapa Hal Di Anime One Piece Ini Terinspirasi Dari Indonesia!

Kamuro > Shinzo/ Hikifune > Unranked > Hashi > Tsubone > Koshi > Tayu/Dayu

Nah masing-masing Oiran biasanya akan naik tingkat seiring berjalannya waktu, namun hal tersebut juga tergantung pada perkembangan kemampuan mereka. Dayu adalah tingkatan tertinggi dimana butuh harga yang luar biasa untuk menyewa jasa mereka. Selain itu, Dayu disebutkan juga memiliki hak khusus untuk memilih siapa pelanggan yang akan mereka layani.

Dididik Sebagai Pelacur

Hingga ke tahap ini sobat OPINI mungkin telah dapatkan sedikit gambar besarnya. Ya, budaya pelacuran zaman dulu di Jepang, ternyata tidak hanya bercerita tentang wanita-wanita dewasa yang terjun ke dunia tersebut, tapi juga dari anak-anak yang dididik secara khusus untuk mampu menjadi wanita penghibur, khususnya seorang Oiran.

Salah satu gambar menarik dari Oda sensei yang ia tampilkan pada chapter 927 adalah saat Toko tetap menampilkan wajah tersenyum meski ia tengah menangis. Entah ini karena merupakan hasil pengajaran dari Dayu ataupun Oiran tingkat atas lainnya, yang jelas tampaknya menangis adalah sebuah hal yang tabu bagi para wanita penghibur tersebut.

Dilain sisi, ekspresi Toko yang sangat menghormati serta tampak mengagumi seorang Oiran, utamanya Dayu Komurasaki, justru memberi kesan bahwa menjadi barisan wanita penghibur kelas atas tampaknya bukanlah suatu hal yang buruk, melainkan suatu hal yang mungkin patut untuk dibanggakan sebagai masyarakat Wano. Dipaksa atau terpaksa, nampaknya bukanlah sebuah perkara dalam hal ini.

Baca Juga  Review One Piece 924 : Ehhhhh!!!
Konklusi

Wanokuni sebagai representasi negeri Jepang di masa kuno memang sangat menarik. Oda sensei menampilkan teknik bercerita yang luar biasa dalam serialnya. Ia sukses menghidupkan budaya, sejarah, serta pesan moral yang mungkin benar-benar tidak pernah ia maksudkan untuk muncul.

Berdasarkan referensi, saat ini pemeritah Jepang memang telah melarang praktek prostitusi Oiran, namun untuk melestarikan, budaya ini tetap dihidupkan, yaitu dengan membuang berbagai sisi negatifnya. Kami tidak ingin terlalu jauh menilai apakah Oiran merupakan bagian dari sejarah kelam atau tidak, karena kita temukan dalam diri Toko, kebanggaan untuk menjadi wanita penghibur tersebut terpancar dengan sangat luar biasa. Kacamata kita sebagai orang modern Indonesia dengan orang kuno Jepang jelas sangat berbeda.

Baiklah sobat OPINI, itulah ulasan singkat kami mengenai budaya pelacuran pada zaman Jepang Kuno yang telah Oda sensei ungkap pada kita semua. Jangan kemana-mana, tetap disini untuk mengikuti berbagai informasi hangat, unik dan menarik lainnya dari kami ya..

Reference:

“www.jaiminisbox.com”

“www.popular-world.com (24-10-17)”

The following two tabs change content below.

Nohara Kun

Buruh tulis di UC News, follow akun kami "Nohara" untuk menyimak berbagai informasi hangat, unik dan menarik lainnya seputar dunia anime.

2 Comments

  1. Sangat inspiratif.. tulisan dengan sumber ilmu yang jelas dan mebarik..

    • Nohara Kun

      Desember 9, 2018 at 11:00

      wah kok inspiratif sih hehe ntar pada salah paham yg baca.. lebih tepat menggunakan kata menarik dsb.. :))

Tinggalkan Balasan